Kripto & Forex

Bitcoin Today

Oleh Admin 28 April 2026 • 18x dibaca
Perusahaan investasi Wall Street, Bernstein, tetap mempertahankan proyeksi harga Bitcoin di level $200.000 meskipun sempat terkoreksi sekitar 38% dari puncaknya di $126.000. Target yang sudah dipasang sejak Oktober 2024 ini tidak berubah, mencerminkan keyakinan kuat bahwa tren jangka panjang Bitcoin masih bullish. Analis utama mereka, Gautam Chhugani, bahkan menyebut kondisi saat ini sebagai “kasus bearish terlemah dalam sejarah Bitcoin.”

Dasar utama optimisme tersebut terletak pada ketidakseimbangan antara suplai dan permintaan. Pasca halving April 2024, produksi Bitcoin baru turun menjadi sekitar 164.000 BTC per tahun. Di sisi lain, permintaan dari perusahaan dan ETF disebut jauh melampaui angka tersebut, bahkan hingga 20 kali lipat. Kondisi ini secara teori menciptakan tekanan kenaikan harga karena pasokan yang semakin terbatas.

Salah satu kontributor terbesar dalam akumulasi Bitcoin adalah Strategy, yang kini menguasai sekitar 3,6% dari total suplai global. Bernstein juga memperkirakan bahwa dalam lima tahun ke depan, alokasi dana perusahaan ke Bitcoin bisa mencapai $330 miliar. Jika proyeksi ini terealisasi, permintaan institusional berpotensi menjadi pendorong utama reli harga berikutnya.

Namun, data kuartal pertama dari JPMorgan menunjukkan bahwa arus masuk ke pasar kripto masih belum sekuat yang diharapkan. Saat ini, sebagian besar pembelian masih terkonsentrasi pada pemain tertentu seperti Strategy, bukan berasal dari partisipasi institusional yang luas. Untuk mencapai $200.000, Bitcoin perlu naik sekitar 156% dalam waktu kurang dari dua tahun—sebuah target yang masih sangat bergantung pada apakah lonjakan permintaan benar-benar akan terjadi.