Makro Ekonomi

IDR: Indonesia Daily Report

Oleh Admin 16 April 2026 • 7x dibaca
Nilai tukar rupiah dilaporkan masih bertahan di dekat level terendahnya, menyentuh kisaran Rp17.130 per dolar AS pada Kamis. Pelemahan ini terjadi meskipun indeks dolar AS justru berada di sekitar level terendah dalam enam minggu terakhir, di tengah harapan meredanya ketegangan geopolitik di Timur Tengah. Kondisi tersebut mencerminkan tekanan domestik yang lebih dominan terhadap pergerakan rupiah dibandingkan faktor global jangka pendek.

Sejumlah faktor internal terus membebani mata uang Indonesia, mulai dari tingginya harga energi, arus keluar modal asing yang berkelanjutan, hingga kondisi fundamental domestik yang dinilai masih rapuh. Selain itu, repatriasi dividen musiman turut memperbesar tekanan terhadap permintaan dolar AS. Situasi ini berpotensi mendorong bank sentral untuk tetap aktif melakukan intervensi di pasar valuta asing, yang pada akhirnya dapat menggerus cadangan devisa yang telah turun ke level terendah dalam hampir dua tahun pada Maret lalu. Di sisi lain, Dana Moneter Internasional (IMF) juga memangkas proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia tahun 2026 menjadi 5,0% dari sebelumnya 5,1%, seiring meningkatnya ketidakpastian global.

Tekanan terhadap rupiah juga diperparah oleh meningkatnya risiko inflasi, terutama akibat fluktuasi harga energi dan bertambahnya beban fiskal pemerintah. Meskipun inflasi Maret masih berada dalam target bank sentral, tren kenaikan harga tetap perlu diwaspadai. Bank Indonesia diperkirakan akan mempertahankan suku bunga acuannya dalam waktu dekat, setelah sebelumnya menahan suku bunga selama beberapa bulan terakhir pasca total pemangkasan sebesar 150 basis poin sejak September 2024. Kebijakan ini mencerminkan upaya menjaga stabilitas nilai tukar sekaligus menyeimbangkan kebutuhan pertumbuhan ekonomi di tengah tekanan eksternal dan domestik.